Batas Moral Seorang Pemimpin
Seorang pemimpin dibentuk dari komitmen pada pengabdian pribadi untuk kepentingan orang banyak, serta menjadikan dirinya sebagai waktu dan ruang untuk berkembang buat keberhasilan total dari semua orang. Pemimpin dalam perilaku bertindak haruslah memiliki batas moral kepemimpinan yang jelas dan terarah. Sebagai pemimpin yang bijaksana, pastilah harus mampu menjadi pusat gerak yang memungkinkan semua misi kepemimpinannya berjalan ke arah tujuan yang tepat dan benar.
Dalam praktiknya batas moral pemimpin harus mampu berperan sebagai rem yang kuat buat mengendalikan nafsu dan ego diri yang liar.Seorang pemimpin wajib memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi etika dan nilai moral positif. Sebab, bila pemimpin tidak setia dengan moral dan etika kepemimpinan positif, dipastikan pemimpin akan kehilangan kredibilitas dalam proses kepemimpinannya. Batas moral terdasar dari seorang pemimpin adalah tidak bimbang dan ragu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk kemenangan dan kebahagiaan banyak orang.Seorang pemimpin berasal dari mimpi untuk memperbaharui kehidupan banyak orang ke arah yang lebih baik, dan semua itu bisa terwujud jika batas moral kepemimpinan bisa menghargai semua lapisan manusia yang mendukungnya.
Dalam praktiknya batas moral pemimpin harus mampu berperan sebagai rem yang kuat buat mengendalikan nafsu dan ego diri yang liar.Seorang pemimpin wajib memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi etika dan nilai moral positif. Sebab, bila pemimpin tidak setia dengan moral dan etika kepemimpinan positif, dipastikan pemimpin akan kehilangan kredibilitas dalam proses kepemimpinannya. Batas moral terdasar dari seorang pemimpin adalah tidak bimbang dan ragu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk kemenangan dan kebahagiaan banyak orang.Seorang pemimpin berasal dari mimpi untuk memperbaharui kehidupan banyak orang ke arah yang lebih baik, dan semua itu bisa terwujud jika batas moral kepemimpinan bisa menghargai semua lapisan manusia yang mendukungnya.
Oleh karenanya, pemimpin dan pengikut harus saling mengetahui dan saling mempercayai dengan dasar moral yang kuat sebagai pengikat batin dan raga mereka dalam satu wujud misi yang jelas.Batas moral pemimpin diukur dari niat baik pemimpin untuk membahagiakan semua pengikutnya dengan menciptakan rasa merdeka yang tinggi dalam ruang tanggung jawab yang besar. Walaupun kebebasan adalah hak dasar dari setiap manusia, tapi sangatlah penting kebebasan itu dibatasi oleh moral dan etika positif sebagai tatakrama untuk saling berkomunikasi tanpa saling menyakiti. Pemimpin yang baik seharusnyalah menjadi moral positif buat semua pengikutnya dalam melakukan tindakkan yang bermanfaat.
Jadi sangat penting buat seorang pemimpin untuk tidak mempraktikkan gaya kepemimpinan yang tidak bermoral dan tidak beretika. Moral dan etika adalah dua kata yang mengandung makna sangat penting dan kuat buat menciptakan rasa bahagia dan nyaman untuk semua orang. Tantangan terhadap moral dan etika kepemimpinan selalu akan hadir untuk menguji kekuatan integritas dan kredibilitas pemimpin dalam menjalankan komitmen kepemimpinannya. Pemimpin harus bisa menolak semua gagasan dan ide yang bertentangan dengan prinsip moral. Sebab prinsip moral yang dihormati akan memberikan segala kebaikan dan nilai positif kepada semua orang, dalam upaya menjalankan praktik kepemimpinan yang berintegritas tinggi.
Pemimpin harus sadar bahwa dalam upaya menegaskan batas moral pemimpin diperlukan komitmen yang kuat antara para pemimpin, individu – individu, sistem, kultur, dan niat baik bersama dalam menjalankan kepemimpinan dengan moral dan etika yang berstandar tinggi. Batas moral pemimpin adalah awal untuk mengetahui keberhasilan seperti apa yang diinginkan hadir dalam realitas akhir. Tanpa batas moral pemimpin, ketidakpastian akan selalu hadir untuk menggoyang rasa percaya diri. Dan, bila rasa percaya diri terperangkap dalam rasa bimbang dan ragu, dipastikan pemimpin dan pengikutnya tak mampu bergerak dalam kepastian dan kejelasan arah tujuan.Perhatikanlah selalu terhadap semua kemungkinan untuk menghadirkan prinsip – prinsip moral yang wajar dan tidak berlebihan dalam mendukung keefektifitasan roda kepemimpinan. Pastikan bahwa batas moral pemimpin telah ditegaskan secara formal dalam organisasi, maupun secara informal dalam etika pergaulan organisasi. Pemimpin harus bisa memberikan kepastian terhadap batas moral kepemimpinan dalam upaya mengelola semua aspek kepemimpinan secara sempurna.
Sumber : Weblog Djajendra Motivation Training Centre
Ciri-ciri Pemimpin dan Kepemimpinan Yang Baik
Sebagai seorang pemimpin yang mengingikan kemajuan bagi anggota dan organisasi yang dipimpinnya, hendaknya seorang pemimpin harus memiliki :
· Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
· Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dalam memajukan organisasi.
· Sikap yang intuitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
· Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan adalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
· Daya ingat yang kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
· Kapasitas integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
· Ketrampilan berkomunikasi secara efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
· Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
· Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
· Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya. Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
· Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
· Kemampuan Menentukan Prioritas, dengan membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
· Naluri yang Tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
· Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, ketertarikan satu sama lain.
· Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
· Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
· Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
· Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisional, temporal dan spatial.
· Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
· Ketegasan, keberanian, orientasi masa depan serta sikap yang antisipatif dan proaktif.
sumber > waspada.co.id
Kesimpulan
Seorang pemimpin dibentuk dari komitmen pada pengabdian pribadi untuk kepentingan orang banyak, serta menjadikan dirinya sebagai waktu dan ruang untuk berkembang buat keberhasilan total dari semua orang.
Oleh karenanya, pemimpin dan pengikut harus saling mengetahui dan saling mempercayai dengan dasar moral yang kuat sebagai pengikat batin dan raga mereka dalam satu wujud misi yang jelas.Batas moral pemimpin diukur dari niat baik pemimpin untuk membahagiakan semua pengikutnya dengan menciptakan rasa merdeka yang tinggi dalam ruang tanggung jawab yang besar.
seorang pemimpin yang mengingikan kemajuan bagi anggota dan organisasi yang dipimpinnya, hendaknya seorang pemimpin harus memiliki :
Pengetahuan umum yang luas dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang Kemampuan Menentukan Prioritas, dengan membedakan hal yang Urgen dan yang Penting. Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.Naluri yang Tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Kode Etik pemimpin
seorang pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dalam memimpin dan harus memahami kode etik yang kuat dan memiliki jiwa pemimpin yang bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemimpin harus sadar bahwa dalam upaya menegaskan batas moral pemimpin diperlukan komitmen yang kuat antara para pemimpin, individu – individu, sistem, kultur, dan niat baik bersama dalam menjalankan kepemimpinan dengan moral dan etika yang berstandar tinggi.
Prilaku-prilaku kode etik yang dilaku oleh pemimpin :
· Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
· Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
· Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisional, temporal dan spatial.
· Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
· Ketegasan, keberanian, orientasi masa depan serta sikap yang antisipatif dan proaktif.
Daftar Pustaka
Batas Moral Seorang Pemimpin | Seorang Pemimpin Dibentuk dari Komitmen Pada Pengabdian Pribadi Untuk Kepentingan Orang Banyak.
Kriteria Atau Ciri-ciri Pemimpin dan Kepemimpinan Yang Baik Dalam Organisasi
Kriteria Atau Ciri-ciri Pemimpin dan Kepemimpinan Yang Baik Dalam Organisasi
